baguspanduardinata


Ya, ini memang bukan minggu terakhir perkuliahan, tetapi Bu Maria memutuskan untuk mengakhiri perkuliahan efektif di minggu ini karena beliau akan terbang ke Polandia. Tempat yang sepertinya beliau sangat idam-idamkan (beliau sangat excited ketika bercerita jika beliau akan menuju Poland :D )
Materi minggu ini lebih ke secara umum bentuk perkuliahan SM ini.
Sehingga, yang dibahas ya hal yang paling basic.
Hal tersebut adalah..
CIMOSA.
Ya, jujur terakhir saya mengulas CIMOSA adalah pada saat saya masih di semester 1 perkuliahan (Sekarang sudah semester 8) L
Jadi, apakah CIMOSA wahai kau orang-orang yang belum pernah mendengar?
Begini.

CIMOSA (Computer Integrated Manufacturing Open System Architecture), adalah bentuk model bisnis untuk arsitektur sistem terbuka untuk CIM. Tujuan CIMOSA adalah "untuk membantu perusahaan untuk mengelola perubahan dan mengintegrasikan fasilitas mereka dan operasi untuk menghadapi persaingan dunia yang luas keduanya. Ini menyediakan kerangka kerja arsitektur yang konsisten untuk pemodelan perusahaan dan integrasi perusahaan yang diperlukan dalam lingkungan CIM ".
CIMOSA menyediakan solusi untuk integrasi bisnis dengan empat jenis produk:


MMenurut Vernadat (1996) CIMOSA adalah istilah proses bisnis dan memperkenalkan pendekatan berbasis proses terintegrasi model perusahaan berdasarkan pendekatan lintas-batas, yang bertentangan dengan tradisional fungsi atau pendekatan berbasis kegiatan. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Ini adalah tulisan Bab II dari judul TA saya yang gagal terbit.


Produk service system atau PSS adalah kombinasi desain produk dan jasa di pasar yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen. PSS juga merupakan solusi yang tidak berbentuk tangible yang disesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi dari konsumen. PSS merupakan hasil pemikiran ulang dari value chain sebuah produk sehingga pelanggan mendapatkan kebutuhannya dengan meminimalisir dampak terhadap lingkungan.
PSS telah digunakan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan diluar fungsi dari produk. Umumnya, terdapat tiga pendekatan di dalam desain PSS seperti yang dijelaskan berikut ini.
1.      Pendekatan berbasis fungsi PSS
Pendekatan ini dilakukan dengan cara menambahkan fungsi baru untuk meningkatkan nilai produk di tengah persaingan pasar.
2.      Value-Added PSS
Perusahaan menambahkan fitur-fitur baru ke dalam produk untuk menambahkan value atau nilai kepada penggunanya.
3.      Evidence-Based Service
Perusahaan melakukan analisa big data yang hasilnya digunakan sebagai acuan untuk memberikan penghematan yang sebenarnya, dan mengembangkan kontrak layanan bagi pelanggan untuk membayar sebagai bagian dalam penghematan Dalam beberapa tahun terakhir, PSS cenderung lebih terintegrasi dengan analisa big data demi lebih cepatnya inovasi.

Dalam perkembangannya, terdapat tiga tipe atau jenis dari PSS. Jenis-jenis dari PSS tersebut adalah:
1.      Product-oriented Service
Product-oriented Service atau PoS merupakan PSS dimana kepemilikan produk secara tangible dimiliki oleh pelanggan, tetapi, layanan tambahan seperti maintenance tetap disediakan oleh penyedia produk.
2.      Use-oriented Service
Use-oriented Service atau UoS merupakan PSS dimana kepemilikan dari produk tangible dimiliki oleh penyedia jasa. Penyedia jasa disini berfungsi sebagai penjual fungsi dari produk dan menerapkan sistem pembayaran yang termodifikasi. Contoh dari UoS adalah persewaan mobil, leasing mobil.
3.      Result-oriented Service
Result-oriented Service atau RoS merupakan PSS dimana produk diganti keseluruhan oleh layanan atau jasa yang disediakan oleh penyedia. Contoh dari RoS adalah ketika layanan voicemail diganti oleh answering machine.

Manfaat dari PSS sendiri sangat beragam. Manfaat tersebut akan berbeda antar pihak yang terlibat. Berikut adalah tabel yang berisi tentang beberapa manfaat PSS terhadap pihak-pihak yang berkaitan.

Pihak
Manfaat
Perusahaan Manufaktur
Memungkinkan untuk menambahkan nilai tambah untuk produk
Meningkatkan hubungan dengan pelanggan karena meningkatnya alur informasi tentang preferensi pelanggan
Memungkinkan untuk menjadikan PSS sebagai landasan strategi untuk pertumbuhan perusahaan
Perusahaan Jasa
Meningkatkan dan menambah variasi jasa
Menjaga market share
Menjaga kualitas layanan
Pelanggan
Mendapatkan banyak opsi layanan sesuai dengan kebutuhan
Mendapatkan produk yang sudah value added
Lingkungan
Dapat mengurangi tingkat limbah produk
Mengurangi tingkat emisi


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Manufacturing artinya manufaktur, lean artinya ramping.
Ya, ramping, mungkin kata yang cenderung offensive bagi kaum-kaum berperut buncit seperti saya.
Tapi yakinlah, ini bukanlah suatu hal yang dikhawatirkan.
Lean Manufacturing merupakan sebuah term  yang menunjukkan dan melambangkan efisiensi. Efisien disini berarti menghilangkan waste yang ada di proses manufaktur. Waste harus dihilangkan karena waste merupakan aktivitas-aktivitas non-value-added dalam perspektif pelanggan. Dengan itu, pihak manufaktur dapat membuat produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan dan memiliki kualitas yang tinggi dan juga murah.
Ya, mengurangi biaya berarti murah. Itulah inti dari lean manufacturing.
Dulu ada yang namanya seven waste. Tapi di jaman yang kekinian ini, bertambah satu waste baru.
Waste-waste tersebut adalah:
1.       Overproduksi
2.       Waiting
3.       Defects
4.       Inventory
5.       Transportation
6.       Over-processing
7.       Motion
8.       Workforce


Untuk menanggulangi hal tersebut berbagai perusahaan manufaktur memikirkan cara bagaimana caranya untuk mengurangi dan mengeliminasi waste tersebut. Contohnya yang paling shahih adalah Kanban, Just in Time, dll yang dipopulerkan oleh merek mobil sejuta umat Indonesia: Toyota.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Paruh kedua semester ini.
Daaan tepat kemarin, tanggal 11 April 2017 saya menyelesaikan seminar proposal saya dengan datar dan revisi-revisi yang semoga cepat tertelisik.
Entah ada hubungannya atau tidak dengan presentasi seminar saya, di kelas Sustainable Manufacturing tadi, Bu Maria selaku dosen mata kuliah SM dan pembimbing TA saya memberikan ilmu super yang beliau miliki terkait dengan pitching. Ini bukan pitch controll yang sering diucapkan ibu-ibu komentator AFI dulu, tetapi ini adalah teknik Elevator Pitching.
Sebenarnya Elevator Pitching bukan hal yang baru bagi saya. Saat saya mengikuti program 1000 Startup dulu telah diajarkan bagaimana tekhnik pitching yang ciamik. Tetapi entah mengapa, bibir ini selalu saja tidak singkron dengan otak saya ataupun sum-sum tulang belakang saya. Entah bibir ini siapa yang kontrol, tetapi jujur saja saya masih belum bisa pitching dengan baik.

Jadi, apa sih elevator pitching itu?

Elevator pitch adalah presentasi sangat singkat yang hanya membutuhkan waktu 20 detik – 60 detik, maksimal hanya 1 menit ! Mengapa 1 menit? Sesuai dengan istilahnya, 1 menit adalah waktu yang dibutuhkan seseorang dari lantai lobby menuju lantai para investor atau kantor direktur sebuah perusahaan. Anggap saja kamu pergi ke kantor perusahaan besar untuk mencari atau bertemu dengan investor. Tanpa disengaja kamu bertemu orang tersebut di lift, saat itu lah kesempatan mu untuk mempresentasikan gagasan atau bisnis mu ke investor. Jika sang investor tertarik, maka dia akan mengajakmu duduk untuk diskusi lebih lanjut. Jika tidak, mungkin elevator pitch mu kurang baik. Ya, 1 menit yang sangat menentukan di kesempatan langka. Lalu,, bagaimana melakukan elevator pitch yang baik ?

Ketika melakukan sebuah elevator pitch, mempertimbangkan sembilan C, sebagaimana ditentukan oleh penulis dan ahli kewirausahaan,Chris O’Leary:

Concise. ringkas dan jelas, dengan kata-kata sesedikit mungkin.
Clear. presentasi harus mudah dipahami oleh orang awam, daripada penuh dengan akronim & istilah yang sulit.
Compelling. Apa masalah yang bisnis kamu pecahkan, dan apa yang dapat kamu lakukan untuk audience target kamu?
Credible. Menguraikan apa yang membuat kamu memenuhi syarat untuk melakukan apa yang kamu lakukan.
Conseptual. Menjaga presentasi Anda spesifik, tidak terlalu banyak detail.
Concrete. Presentasi harus mudah dipahami oleh audience kamu.
Customized. Setiap target berbeda, presentasi harus disesuaikan dengan pendengar.
Consistent. Tidak peduli berapa banyak versi presentasi yang kamu miliki, kamu harus menyampaikan pesan dasar yang sama.
Conversational. Santai dalam memulai percakapan.

Yap, kuncinya ada pada 9 C tersebut. 9 C tersebut bukanlah rantai karbon senyawa karbon (....), bukan juga jumlah angka C di transkrip IP saya, tetapi ya itu kuncinya.

Semoga dengan Elevator Pitch ini dapat membuat ide kita akan lebih didengarkan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • ▼  2017 (12)
    • ▼  June (4)
      • It's A Wrap!
      • Product, Service, System digabung menjadi Product ...
      • Merampingkan Manufaktur
      • Teknik Pitching ala Elevator: Elevator Pitch
    • ►  April (1)
    • ►  March (5)
    • ►  February (2)

Created with by BeautyTemplates| Distributed By Gooyaabi Templates